Bismillahirrahmaanirrahiim....
"Kapan nikah??"
"Do'ain aja yee... lagi proses nih"
"Oh iya, sukses ya bang!! Btw, boleh tau kriteria wanita idamannya ngga??"
"Klo saya mau wanita yang bisa masak, didik anak saya dan klo bisa yang bisa berbahasa arab de el el..."
*cegluk*
Demikian secuil percakapan 2 orang pria di suatu waktu dan di suatu tempat. Asli deh pingin banget ketawa pas ngedenger pernyataan di atas tadi. Kenapa ketawa?? Ada yang lucu?? Ngga sih ngga ada yang lucu di sana tapi jujur aja ketika ada orang yag seidealis di atas itu membuat saya ngga bisa berkata apa-apa lagi selain silent dan mengiyakan sajah dan -tentunya- mendo'akan yang terbaik saja.
Kenapa?? Emangnya fahri ngga mau punya wanita yang demikian juga?? Bukaaann, bukan saya ngga mau. Mana ada sih pria yang ngga mau punya istri bisa masak, didik anak dan berbahasa arab yang nantinya bisa membahagiakan kita?? Klo mau jujur-jujuran saya mah mau bangett tapi sekarang yang jadi permasalahan kita tuh nikah mau cari pendamping hidup, koki, baby sitter, guru bahasa arab ato apa?? Pastilah akan menjawab "yaa pendamping hidup lah". Lalu pertanyaannya adalah haruskah kriteria di atas dipenuhi?? dan haruskah kita terus menggagalkan pernikahan karena tidak tercapainya hal tersebut di atas??
Duh, maaph nih bukannya mau sok jago bahas tentang pernikahan tapi bukankah hanya ada 4 kriteria (harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya) yang disunnahkan ama Rasul dan disunnahkan memilih yang terakhir, yaitu agamanya agar kita bahagia?? Emang sih kebahagiaan itu relatif, tapi bahagia juga kan butuh proses yang ngga sebentar bahkan mungkin sampai akhir hidup kita.
Sama halnya dengan kebahagiaan, kriteria di atas (masak, didik anak, berbahasa arab, dll.) adalah sesuatu yang butuh proses. Sebenernya keahlian di atas juga sudah wanita miliki sejak mereka terlahir di dunia tinggal bagaimana sang wanita tersebut mengasah keahlian tersebut dan biasanya keahlian tersebut akan muncul jika dihadapi situasi apalagi situasi tersebut urgent. Bukankah para pria pun demikian??
Percaya atau tidak?? Setuju atau ngga?? itu terserah Anda, hanya saya ingin berbagi cerita tentang tante saya yang kagak tau perabotan dapur dan jarang banget di rumah, itu dulu. Ketika menikah sang pria pun ngga mempermasalahkan hal tersebut karena si om tau bukan hanya hal di atas tujuan dari nikah. Hari demi hari berjalan dan sekarang masakan tante saya itu enak banget dengan macam-macam menu pula tentunya dan mengurus anak pun berhasil. So??
Sekali lagi, bagi para pria, idealis boleh tapi pliss.. ngga usah lah terlalu memaksa harus sedemikian sama dengan hal-hal yang sebenernya itu akan hadir dalam proses kehidupan yang *seperti* baru nanti (baca : nikah). Dan tentunya ini bukan pelajaran tapi hanya share pengalaman dan pengamatan saya ajah karena semuanya kembali kepada masing-masing individu.
"Kapan nikah??"
"Do'ain aja yee... lagi proses nih"
"Oh iya, sukses ya bang!! Btw, boleh tau kriteria wanita idamannya ngga??"
"Klo saya mau wanita yang bisa masak, didik anak saya dan klo bisa yang bisa berbahasa arab de el el..."
*cegluk*
Demikian secuil percakapan 2 orang pria di suatu waktu dan di suatu tempat. Asli deh pingin banget ketawa pas ngedenger pernyataan di atas tadi. Kenapa ketawa?? Ada yang lucu?? Ngga sih ngga ada yang lucu di sana tapi jujur aja ketika ada orang yag seidealis di atas itu membuat saya ngga bisa berkata apa-apa lagi selain silent dan mengiyakan sajah dan -tentunya- mendo'akan yang terbaik saja.
Kenapa?? Emangnya fahri ngga mau punya wanita yang demikian juga?? Bukaaann, bukan saya ngga mau. Mana ada sih pria yang ngga mau punya istri bisa masak, didik anak dan berbahasa arab yang nantinya bisa membahagiakan kita?? Klo mau jujur-jujuran saya mah mau bangett tapi sekarang yang jadi permasalahan kita tuh nikah mau cari pendamping hidup, koki, baby sitter, guru bahasa arab ato apa?? Pastilah akan menjawab "yaa pendamping hidup lah". Lalu pertanyaannya adalah haruskah kriteria di atas dipenuhi?? dan haruskah kita terus menggagalkan pernikahan karena tidak tercapainya hal tersebut di atas??
Duh, maaph nih bukannya mau sok jago bahas tentang pernikahan tapi bukankah hanya ada 4 kriteria (harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya) yang disunnahkan ama Rasul dan disunnahkan memilih yang terakhir, yaitu agamanya agar kita bahagia?? Emang sih kebahagiaan itu relatif, tapi bahagia juga kan butuh proses yang ngga sebentar bahkan mungkin sampai akhir hidup kita.
Sama halnya dengan kebahagiaan, kriteria di atas (masak, didik anak, berbahasa arab, dll.) adalah sesuatu yang butuh proses. Sebenernya keahlian di atas juga sudah wanita miliki sejak mereka terlahir di dunia tinggal bagaimana sang wanita tersebut mengasah keahlian tersebut dan biasanya keahlian tersebut akan muncul jika dihadapi situasi apalagi situasi tersebut urgent. Bukankah para pria pun demikian??
Percaya atau tidak?? Setuju atau ngga?? itu terserah Anda, hanya saya ingin berbagi cerita tentang tante saya yang kagak tau perabotan dapur dan jarang banget di rumah, itu dulu. Ketika menikah sang pria pun ngga mempermasalahkan hal tersebut karena si om tau bukan hanya hal di atas tujuan dari nikah. Hari demi hari berjalan dan sekarang masakan tante saya itu enak banget dengan macam-macam menu pula tentunya dan mengurus anak pun berhasil. So??
Sekali lagi, bagi para pria, idealis boleh tapi pliss.. ngga usah lah terlalu memaksa harus sedemikian sama dengan hal-hal yang sebenernya itu akan hadir dalam proses kehidupan yang *seperti* baru nanti (baca : nikah). Dan tentunya ini bukan pelajaran tapi hanya share pengalaman dan pengamatan saya ajah karena semuanya kembali kepada masing-masing individu.
Wallahu a'lam
No comments:
Post a Comment